Individu Protektif sebagai Sumber Empati yang Berlimpah

Dalam hati dan pikiran orang protektif, tersembunyi sumber empati yang berlimpah. Mereka memiliki kemampuan istimewa dalam merasakan nuansa khusus yang dirasakan oleh orang lain, seolah-olah mereka bisa berjalan di sepatu orang lain tanpa membebani si pemilik sepatu. Keunikan ini menjadikan mereka teman yang luar biasa dalam mendukung dan memahami perasaan orang di sekitarnya. Ketajaman empati orang protektif seperti memiliki radar super canggih yang mampu menjaga perasaan manusia. Mereka tidak hanya menyaksikan perasaan orang lain, tetapi benar-benar meresapi dan memahami dengan mendalam. Jika temannya sedang merasa sedih, mereka juga merasa sedih; jika ada orang yang membutuhkan bantuan, teman protektif ini siap memberikan dukungan penuh tanpa syarat. Keajaiban empati yang dimiliki teman protektif melampaui sekadar simpati biasa. Mereka berusaha menjadi penopang emosional yang kuat bagi teman-teman mereka. Meskipun tidak selalu bisa memberikan solusi konkret, kehadiran mereka dan kepedulian tulus menjadi modal utama untuk menciptakan atmosfer saling pengertian dan dukungan. Temuan menarik lainnya tentang teman protektif adalah kemampuan mereka menjadikan emosi dan kebutuhan orang lain sebagai prioritas utama. Mereka tidak hanya bersikap mendengarkan secara pasif, tetapi juga aktif mencari cara untuk membantu dan mengatasi kesulitan yang dihadapi orang di sekitarnya. Sikap ini mencerminkan komitmen mereka untuk menjadi teman yang dapat diandalkan dalam berbagai situasi. Ketika orang protektif menyaksikan teman-teman mereka mengalami kesulitan atau kegagalan, mereka merasa tanggung jawab untuk memberikan dukungan moral dan semangat. Peran ini dijalankan tanpa pamrih, didorong oleh keinginan tulus untuk melihat orang lain bahagia dan berhasil. Keberadaan teman protektif menjadi pelengkap yang memperkaya makna persahabatan. Bahkan, sumber empati yang dimiliki teman protektif tidak hanya berhenti pada lingkup pertemanan. Mereka juga dapat memahami dan merasakan kebutuhan keluarga, menjadikan mereka figur yang dihormati dan diandalkan dalam hubungan keluarga. Kecenderungan mereka untuk selalu berada di samping orang-orang yang dicintai membuat ikatan emosional semakin kuat dan erat. Keajaiban empati yang dimiliki teman protektif tidak hanya menyentuh permukaan hubungan sosial, tetapi juga meresap ke dalam jiwanya. Mereka adalah pribadi yang benar-benar peduli dan memahami makna solidaritas manusia. Dalam dunia yang kadang penuh dengan ketidakpastian, kehadiran teman protektif adalah harta berharga yang mencerahkan perjalanan hidup. Ilustrasi: pixabay Hascaryo UT Semarang
Mewaspadai Konflik dengan Teman yang Kini Berubah Tidak Bersahabat

Pernahkah Anda merasakan ketika teman yang semula dekat dengan Anda tiba-tiba bersikap memusuhi? Situasi ini dapat menjadi pukulan emosional yang sulit dihadapi. Langkah apa yang sebaiknya diambil dalam menghadapi dinamika hubungan pertemanan yang tiba-tiba berubah menjadi konfrontatif? Sikap waspada seringkali muncul saat Anda memiliki masalah dengan mantan teman yang kini bersikap protektif. Menanyakan alasan di balik perubahan sikap ini mungkin menjadi langkah pertama yang ingin Anda lakukan. Namun, teman yang bersikap protektif mungkin akan menarik diri sejenak, menciptakan jarak agar tidak dicurigai sebagai penyebab kegagalan hubungan Anda. Tindakan ini sebenarnya adalah usaha untuk menciptakan harmoni hati yang lebih selaras, memungkinkan dia tetap berbicara dengan Anda tanpa konflik lebih lanjut. Penting untuk memahami bahwa teman yang bersikap protektif tidak selalu bermaksud merugikan Anda. Seringkali, mereka hanya berusaha melindungi diri mereka sendiri dari potensi konflik atau ketidaknyamanan. Mereka mungkin memiliki pandangan atau keyakinan tertentu yang tidak selaras dengan Anda, dan sikap waspada mereka adalah cara untuk menjaga jarak. Dalam menghadapi situasi ini, penting untuk tetap tenang dan terbuka komunikasi. Jangan terburu-buru menilai atau menyalahkan teman Anda. Cobalah untuk memahami perspektif dan perasaannya. Terkadang, melibatkan pihak ketiga seperti teman bersama atau mediator dapat membantu meredakan ketegangan dan mencari solusi bersama. Jika teman yang bersikap protektif adalah mantan teman, berikan waktu bagi keduanya untuk menyusun ulang dinamika hubungan. Mungkin diperlukan waktu dan refleksi bagi keduanya untuk memahami perubahan ini dan menemukan cara untuk berinteraksi dengan lebih baik di masa depan. Sikap waspada tidak selalu bersifat negatif. Teman yang bersikap protektif mungkin memiliki ketulusan dalam hati mereka. Pahami bahwa setiap orang memiliki batasan dan kenyamanan masing-masing dalam mengelola hubungan sosial. Dengan saling pengertian dan komunikasi yang terbuka, Anda mungkin bisa meresapi dinamika perubahan ini dan membangun kembali hubungan yang harmonis. Ilustrasi: pixabay.com Hascaryo UT Semarang
Tips Menjaga Diri dari Ancaman Bahaya Teman Sendiri

Dalam lingkaran pertemanan, kita semua memiliki teman yang cenderung waspada terhadap potensi bahaya atau ancaman terhadap orang yang mereka cintai, termasuk kita sendiri, meskipun mereka tidak menunjukkan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kehadiran teman protektif ini membawa dinamika unik dalam interaksi sehari-hari. Mereka selalu berada di garda terdepan, siap melindungi tanpa pamrih. Teman yang protektif memiliki naluri untuk selalu waspada atau hati-hati dalam situasi tertentu. Mereka cerdik dalam membaca situasi dan tahu kapan harus bicara atau merendahkan suara mereka. Kepekaan terhadap dinamika sosial membuat mereka menjadi penilai situasional yang ulung. Menyaksikan sebuah kejadian bukan hanya sekadar menjadi penonton bagi teman yang protektif. Mereka akan membaca situasi dengan seksama, memastikan bahwa orang-orang di sekitar mereka berada dalam keadaan aman dan nyaman. Ketelitian ini mencerminkan rasa tanggung jawab mereka terhadap keamanan bersama. Kemampuan untuk menentukan apakah sebuah percakapan patut didengarkan atau tidak menjadi salah satu ciri khas teman protektif. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga memilah informasi untuk melindungi teman-teman mereka dari segala macam ancaman atau bahaya potensial. Teman yang protektif juga memiliki kebijaksanaan dalam menentukan waktu yang tepat untuk memberikan reaksi. Mereka tidak terburu-buru merespons, tetapi memilih momen yang tepat untuk memberikan dukungan atau saran. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan mereka dalam bersosialisasi. Sikap waspada teman yang protektif, meskipun terkadang terasa berlebihan, sebenarnya berasal dari niat tulus untuk melindungi dan menjaga kebahagiaan teman-teman mereka. Kehadiran mereka menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, di mana setiap orang merasa didukung dan dihargai. Dalam menghadapi teman yang protektif, penting untuk memberikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian mereka. Ini merupakan bentuk penghargaan terhadap upaya mereka dalam menjaga hubungan persahabatan. Seiring berjalannya waktu, kita dapat menyadari bahwa memiliki teman yang protektif adalah anugerah yang membawa kehangatan dan keamanan dalam kehidupan kita. Ilustrasi: pixabay Hascrayo UT Semarang
Tips Berinteraksi dengan Teman yang Pendiam dan Protektif
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita seringkali bertemu dengan teman yang memiliki sifat pendiam dan protektif. Pertemuan dengan mereka membawa kita ke dalam suasana yang khas dan terkadang membingungkan. Bagaimana kita dapat membuka komunikasi dengan mereka tanpa membuat mereka merasa terancam? Dalam perjalanan ini, kita akan mengeksplorasi beberapa tips yang dapat membantu kita memahami karakteristik unik teman yang pendiam dan protektif serta membangun hubungan yang lebih erat dengannya. Berikanlah waktu dan ruang pada teman yang pendiam. Mereka cenderung lebih nyaman dengan privasi mereka, sehingga memberikan kesempatan untuk meresapi situasi sebelum membuka percakapan dapat membuat mereka merasa lebih tenang dan siap untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Ajukan pertanyaan terbuka yang dapat merangsang pembicaraan tanpa memberikan tekanan berlebihan. Hindari pertanyaan yang terlalu pribadi agar mereka tidak merasa terancam, dan gunakan pertanyaan tersebut sebagai pendorong untuk membuka diri. Tunjukkan ketertarikan pada kecenderungan unik mereka. Teman yang protektif seringkali memiliki kecenderungan yang membuat mereka istimewa. Tunjukkan ketertarikan pada hal-hal ini, seperti hobi atau minat mereka. Ini dapat menjadi cara yang baik untuk memulai percakapan. Jangan memaksa jika teman terlihat enggan berbicara. Terkadang, mereka hanya perlu waktu atau mungkin tidak ingin membagikan sesuatu pada saat itu. Memberikan mereka kebebasan untuk memilih kapan dan apa yang ingin mereka bicarakan adalah kunci penting. Temukan cara unik untuk berempati dengan mereka. Teman yang pendiam dan protektif mungkin mengekspresikan empati mereka dengan cara yang berbeda. Perhatikan cara mereka berempati dan respek keunikan tersebut. Jalinlah komunikasi secara bertahap dan alami. Bangunlah hubungan secara perlahan tanpa terburu-buru. Dengan memberikan waktu pada hubungan tersebut, kita dapat membangun kepercayaan dan kenyamanan bersama. Hargai dan hormati batasan mereka. Teman yang protektif memiliki batasan dalam hal berbagi informasi pribadi. Hargai dan hormati batasan tersebut. Dengan melakukan hal ini, kita dapat membangun kepercayaan bersama dan mungkin membuat mereka menjadi lebih terbuka seiring waktu. Dengan menerapkan pendekatan ini, kita dapat membangun hubungan yang positif dan mendalam dengan teman yang pendiam dan protektif. Kesabaran, pengertian, dan kesediaan untuk memahami cara mereka berkomunikasi akan membantu kita mengatasi tantangan ini dan memperkuat ikatan pertemanan kita. Ilustrasi: pixabay Hascaryo UT Semarang
Mengungkap Penyebab Kebiasaan Menunda Pekerjaan
Menunda pekerjaan atau yang dikenal sebagai prokrastinasi adalah kebiasaan yang umum dijumpai dan seringkali menjadi tantangan bagi banyak orang. Beberapa faktor kompleks dapat menjadi penyebab utama di balik kebiasaan ini, menciptakan pola perilaku yang sulit diubah. Berikut ini diulas beberapa faktor yang mungkin menjadi pemicu seseorang suka menunda pekerjaan. Salah satu faktor yang seringkali menjadi pemicu prokrastinasi adalah kurangnya motivasi. Ketika seseorang tidak merasakan dorongan yang kuat atau tujuan yang jelas terkait dengan pekerjaan yang harus dilakukan, mereka cenderung menunda-nunda tugas tersebut. Motivasi yang rendah dapat muncul dari ketidakjelasan visi atau kurangnya minat terhadap pekerjaan tersebut. Tingkat stres yang tinggi juga dapat menjadi pemicu prokrastinasi. Beban kerja yang berat atau tenggat waktu yang ketat dapat menciptakan tekanan emosional yang membuat seseorang lebih cenderung menunda pekerjaan. Rasa takut terhadap kegagalan atau penilaian orang lain juga dapat menjadi sumber stres yang signifikan. Kurangnya keterampilan manajemen waktu adalah faktor lain yang seringkali terkait dengan kebiasaan menunda pekerjaan. Orang yang belum mengembangkan keterampilan ini mungkin kesulitan dalam memprioritaskan tugas, membuat jadwal yang efisien, atau mengatur waktu dengan baik. Akibatnya, pekerjaan dapat ditangguhkan dan tidak selesai tepat waktu. Kondisi kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan, dapat menjadi faktor penyebab prokrastinasi. Seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menghadapi hambatan ekstra dalam menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari. Kondisi ini dapat memengaruhi energi, motivasi, dan fokus seseorang. Kurangnya pemahaman akan konsekuensi dari menunda pekerjaan juga dapat menjadi pemicu prokrastinasi. Seseorang mungkin tidak menyadari dampak negatif yang dapat timbul, seperti peningkatan stres, penurunan produktivitas, atau bahkan risiko kegagalan. Kesadaran akan konsekuensi ini dapat menjadi langkah pertama dalam mengatasi kebiasaan menunda pekerjaan. Faktor lingkungan, termasuk keberadaan gangguan atau kurangnya dukungan, juga dapat berkontribusi pada prokrastinasi. Lingkungan kerja yang kurang kondusif atau terlalu bising dapat menghambat fokus dan memicu keinginan untuk menunda pekerjaan. Sementara itu, kurangnya dukungan sosial atau dorongan positif dari rekan kerja atau keluarga juga dapat memperburuk kebiasaan ini. Ketidakmampuan mengelola rasa takut atau kecemasan terhadap hasil pekerjaan juga dapat menjadi pemicu prokrastinasi. Seseorang yang terlalu takut menghadapi kemungkinan kegagalan atau tidak puas dengan hasil pekerjaan mereka mungkin lebih cenderung menunda-nunda tugas tersebut. Mengatasi ketakutan ini melalui pendekatan yang lebih positif dan konstruktif dapat membantu mengatasi kebiasaan prokrastinasi. Ilustrasi: pixabay Hascaryo UT Semarang
Mengenal Teman Protektif, Jadikan Ia Penjaga Setia di Kehidupan Kita
Kehidupan sosial kita dipenuhi oleh berbagai macam teman, masing-masing dengan sifat dan karakteristik yang unik. Salah satu jenis teman yang sering kita temui adalah teman yang protektif. Individu ini cenderung membentuk identitasnya sebagai penjaga setia, selalu siap melindungi dan tidak pernah menyakiti siapa pun tanpa alasan yang jelas. Ciri khas teman yang protektif dan menjadikan mereka sebagai aset berharga dalam kehidupan kita, dapat kita lihat dalam coretan berikut. Ciri pertama dari teman yang protektif adalah kecenderungannya untuk bertahan daripada menyerang. Mereka tidak mencari konflik atau permusuhan, tetapi lebih suka menjaga keharmonisan dalam hubungan mereka. Sikap ini membuat mereka menjadi teman yang dapat diandalkan dan stabil, karena mereka tidak akan menciptakan ketegangan yang tidak perlu. Catatan penting dari teman yang protektif adalah jangan menyakiti mereka secara verbal. Luka hati yang mereka alami dapat terasa sangat dalam dan sulit untuk sembuh. Oleh karena itu, kita dapat memandang mereka sebagai teman yang ideal untuk menyimpan rahasia atau pengalaman pribadi yang mungkin menyakitkan. Mereka akan menjaga rahasia kita dengan setia tanpa menghakimi atau mengungkit-ungkit. Ketika berada di sekitar teman yang protektif, kita akan merasakan kehangatan dan perhatian yang konsisten. Mereka cenderung memiliki naluri untuk melindungi kita dari segala bahaya, baik fisik maupun emosional. Hal ini membuat kita merasa aman dan nyaman dalam hubungan pertemanan, karena kita tahu bahwa teman ini selalu ada untuk mendukung dan melindungi. Teman yang protektif memiliki keunikan dalam memberikan dukungan. Mereka tidak hanya bersedia mendengarkan, tetapi juga memberikan saran dan dukungan yang konstruktif. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat ke dalam, memahami kebutuhan kita, dan memberikan bantuan tanpa menghakimi. Keberadaan mereka di sekitar kita seperti pelindung yang selalu siap sedia. Ketika kita memiliki teman yang protektif, kita dapat merasakan kehangatan dan stabilitas dalam hubungan tersebut. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh gosip atau drama yang tidak perlu. Sebaliknya, mereka akan mempertahankan integritas dan nilai-nilai moral mereka, menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung. Namun, saran untuk memiliki teman yang protektif bukan berarti kita dapat mengandalkan mereka untuk segalanya. Teman ini juga manusia, dengan kelemahan dan kesalahan mereka sendiri. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh teman yang protektif. Dalam kehidupan yang penuh dengan dinamika hubungan sosial, memiliki teman yang protektif adalah berkah yang luar biasa. Mereka membawa kehangatan, kestabilan, dan kepercayaan dalam kehidupan kita. Sebagai teman yang penuh kasih, mereka melengkapi keberagaman hubungan sosial kita dengan memberikan perlindungan tanpa syarat dan dukungan yang tulus. Ilustrasi: pixabayHascaryo UT Semarang
Menemukan Teman Setia dalam Belajar: Membongkar Misteri Sifat Pendiam
Menemukan teman setia dalam belajar memang bisa menjadi tugas yang sulit, terutama bagi mereka yang memiliki sifat pendiam. Kehadiran teman yang setia dan dapat diandalkan dalam menghadapi dunia pendidikan sangat berharga, namun, untuk mereka yang cenderung lebih tertutup, proses ini bisa terasa seperti menavigasi labirin sosial. Karakteristik unik teman yang setia dalam belajar, khususnya yang pendiam, memberikan ciri-ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Salah satu ciri utama teman setia yang pendiam adalah kehati-hatian dalam membangun hubungan. Mereka mungkin kurang berani mendekatkan diri karena khawatir hubungan itu dapat merusak dinamika yang sudah baik dengan teman-teman dekat yang ada. Meskipun terlihat waspada, teman seperti ini biasanya membina hubungan secara tulus dan setia. Model teman yang pendiam cenderung menunjukkan sifat tulus dan kesetiaan yang tinggi. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh gosip atau perubahan suasana hati. Kesetiaan ini membuat mereka menjadi sekutu yang kuat dalam perjalanan belajar bersama. Teman setia yang pendiam seringkali tidak suka disakiti secara verbal. Mereka menganggap tuturan yang menyakitkan sama dengan merendahkan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, komunikasi yang positif dan menghormati menjadi kunci dalam menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Pendiam bukan berarti tidak memiliki minat dalam pertemanan, sebaliknya, mereka biasanya lebih memilih untuk berbicara melalui tindakan. Seringkali lebih asyik dengan hal-hal di depannya, seperti handphone atau buku-buku yang mereka bawa. Momen seperti ini dapat menjadi peluang untuk mendekati mereka secara lebih mendalam. Dalam belajar bersama, teman setia yang pendiam terbukti memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi. Mereka lebih cenderung fokus pada materi pembelajaran dan mampu memberikan dukungan tanpa banyak kata-kata. Kehadiran mereka bisa menjadi penunjang positif dalam meningkatkan produktivitas dan keberhasilan akademis. Walaupun bersifat pendiam, teman setia ini seringkali memiliki wawasan dan pemikiran mendalam. Mereka suka merenung dan memproses informasi dengan cermat sebelum mengemukakan pandangan atau ide. Hal ini membuat diskusi bersama mereka menjadi berharga dan memberikan perspektif yang unik. Terlepas dari sifat pendiam, teman setia dalam belajar biasanya dapat diandalkan dalam situasi-situasi sulit. Mereka memiliki kemampuan untuk tetap tenang dan memberikan dukungan moral ketika diperlukan. Keberadaan mereka memberikan stabilitas dan kenyamanan dalam perjalanan belajar yang penuh tantangan. Dalam menghadapi tantangan menemukan teman setia, apalagi yang memiliki sifat pendiam, komunikasi terbuka dan saling pengertian menjadi kunci utama. Proses memahami karakter dan menghargai perbedaan masing-masing individu dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk menjalin hubungan yang kuat dan bermakna dalam perjalanan belajar bersama. ilustrasi: pixabay Hascaryo UT Semarang
Gelar Lomba Wakul Berkait, UT Daerah Semarang Semarak Sejak Pagi

UT Daerah Semarang punya gawe meriah. Acara gembira yang diikuti seluruh karyawan ini diselenggarakan di lapangan Kantor UT Daerah Semarang. Tanpa basa-basi, peserta lomba yang sudah diatur keikutsertaannya ini, siap sejak pukul 9 pagi. Di awal acara, lomba yang digelar adalah lomba pasang wakul, Para peserta yang sudah diberi wakul tiap personil, harus mengaitkan topi wakul pada cantolan yang sudah disiapkan panitia. Eiiit jangan salah…mereka pun harus berjalan terlebih dahulu lebih kurang sejauh 20 meter. Sepertinya gampang, tapi nyatanya banyak juga yang kebingungan ketika harus memastikan posisi cantolan pada kait wakul. Salah satu peserta lomba yang sudah berusia senja berujar, “ini kita dikerjain anak-anak muda, disuruh nanduk-naduk kayak apa”. Keceriaan ini akan terus berlanjut hingga sore hari dengan agenda lomba voli sarung. Tiap tim terdiri dari 5 orang, baik putera maupun puteri.
Pemkab Blora Undang Ratusan Kades dalam Sosialisasi RPL UT

Pemerintah Kabupaten Blora yang masuk dalam wilayah kerja Universitas Terbuka (UT) Daerah Semarang, pada Jumat (4/8). Bertempat di Pendopo Kabupaten Blora, acara yang diprakarsasi oleh Bupati Blora, Arif Rohman, SIP, M.Si ini diniatkan untuk meningkatkan kualifikasi jenjang pendidikan para kepala desa di Kabupaten Blora. “Akan lebih indah jika seluruh kepala desa di Blora sudah bergelar sarjana. Tentu ini akan membanggakan Blora khususnya, dan Jawa Tengah pada umumnya”, ujar Arif dalam sambutannya. Acara yang dihadiri 270 kepala desa ini dihadiri pula oleh unsur pimpinan Pemerintah Kabupaten Blora, termasuk Kepala Dinas PMD, Yayuk Windrati, S.IP. Yayuk mengatakan, “tujuan pelaksanaan acara ini adalah untuk peningkatan SDM semua kepala desa. Dan kita bekerja sama dengan UT melalui program Rekoginisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang dimiliki UT. Ada banyak kemudahan di RPL UT, dan ini perlu disosialisasikan. UT Daerah Semarang yang hingga masa registrasi 2023.2 ini belum menutup registrasi dan masih menerima pendaftaran mahasiswa baru, angka partisipasi mahasiswa barunya sudah menembus di angka 9.000an mahasiswa yang admisi. Andaikata para kepala desa di Blora berminat masuk ke UT, jumlahnya pun akan bertambah. (hasca)
Mengenal akhlak madzmumah untuk keberhasilan anak
Kenakalan adalah perbuatan tercela. Seperti biasa, kita masih saja menganggap kenakalan remaja sebagai hal biasa. Lumrah. Padahal seharusnya tidak demikian cara kita menyikapinya. Perlu ada rasa cemas bahwa kenakalan akan memberikan dampak buruk bagi pelakunya. Dampak tersebut tidak selalu langsung dirasakan atau disaksikan hasilnya secara cepat. Dampak buruk bisa merupakan delayed impact yang menjadi bom waktu. Namanya saja bom, tentu akibatnya lebih banyak negatifnya daripada positif. Sebagai orang tua, tak cukup hanya merasa kaget, terperangah, atau cemas jika mendapati anaknya melakukan tindak kenakalan. Jika sekadar merasa cemas atau prihatin, maka keinginan untuk mengubah perilaku anak pun akan terlambat. Dalam pemahaman Islam, kenakalan merupakan sebuah ekspresi akhlak, yang masuk kategori akhlak madzmumah. Akhlak jenis ini lebih berbahaya sebab menjurus pada akhlak tercela. Jika Anda memiliki pemikiran bahwa kenakalan ada fase-fasenya, maka hal ini tidaklah keliru. Dan sebaiknya jangan pernah berharap akan bisa menemui fase tertinggi kenakalan anak. Hal ini akan sangat menyengsarakan kita sebagai orang tua yang punya keinginan menjadikan buah hatinya sebagi figur sukses, berhasil, dan berakhlak mulia. Ini harapan, yang hanya akan jadi sebatas harapan jika tidak didukung oleh upaya nyata. Upaya nyata seperti apa yang harus kita lakukan, tentu ada banyak jenisnya. Mulai dari yang sederhana saja, yaitu ucapan. Ucapan orang tua, sebaiknya dasarnya adalah karena nasehat. Dengan niat nasehat maka anak tidak akan merasa jengah atau kesal karena mendapatkan nasehat. Namun juga, nasehat yang diberikan pun sebaiknya tidak dengan cara mendudukkan anak dan ia diminta mendengarkan omongan kita. Era sekarang harus disesuaikan dengan era si anak yang kurang mau jika dinasehati dengan cara duduk dan mendengarkan. Mereka lebih suka dengan pendekatan versi pertemanan, yaitu yang menempatkan orang tua layaknya kawan sendiri. Kita pun tak perlu merasa tersinggung dengan model ini. Memang beginilah mereka, dan begitulah kita harus menyesuaikannya. Ada satu nasehat yang agak bisa menaklukkan kenakalan mereka, untuk menyadarkan mereka, bahwa kenakalan adalah sebuah bentuk keangkuhan. Tanyakan pada si anak, apakah benar kamu adalah anak angkuh, ingin dikenal angkuh, dan faktor apa yang mendasari keangkuhan mereka. Tanyakan pula hal apa saja yang mengharuskan mereka angkuh. Apakah karena orang tua yang kaya raya, punya jabatan, punya mobil mewah, rumah bertingkat-tingkat, dan semua kebutuhan anak selalu terpenuhi. Sentuh hatinya dengan pilihan kata sejuk, dengan menundukkan gerak mata mereka secara halus perlahan, hingga kita bisa menemukan figur anak kita yang sebenarnya. Semoga cara ini bisa membantu. (hasca)