Wisuda UT hari kedua digelar di Hotel Patra Jasa

Selasa (7/3) menjadi hari istimewa bagi 675 alumni Universitas Terbuka (UT) Semarang. Betapa tidak, sebab di Hotel Patra Jasa Semarang, kawasaan Semarang atas inilah, mereka mengikuti seremoni wisuda secara luring. Dengan kehadiran Wakil Rektor I UT, Dr M Yunus, MA, acara yang digelar sejak pukul 6 pagi ini akhirnya bisa berlangsung tertib. “Cuaca lumayan cerah, nggak seperti beberapa hari terakhir yang selalu hujan pas pagi hari”, ucap salah satu pendamping wisudawan dari Kabupaten Semarang, Warni (51). M Yunus yang mendapatkan tugas dari Rektor UT untuk memberikan sambutan mengatakan, lulusan perguruan tinggi saat ini sudah langsung dihadapkan pada tantangan masa depan yang begitu komplek. “Sebut saja teknologi. Saat ini sudah berbeda dengan era 10 tahun lalu yang belum begitu dominan dengan teknologi. Kalau pun ada, belum seperti ini. Dan jika lulusan UT tidak mengikuti perkembangan teknologi, maka akan tertinggal oleh yang lain”. Selain Yunus, Direktur UT Semarang, Drs Moh Muzammil, M.Si. juga mengingatkan agar alumni UT memiliki semangat juang tinggi demi meraih masa depan gemilang. “Siapkan diri Anda semaksimal mungkin agar bisa mengikuti dan menjawab tuntutan zaman”. Hadir dalam kegiatan wisuda kali ini, adalah para alumni UT dari Kota Semarang (95 orang), Kabupaten Batang (74), Kabupaten Blora (133), Kabupaten Kendal (151), Kabupaten Pekalongan (99), Kabupaten Pemalang (44), Kabupaten Semarang (34), Kota Pekalongan (29), kota di luar jangkauan UT Semarang (14 orang), serta Program Pascasarjana (2 orang). Untuk pengukuhan lulusan terbaik dari Program Pendidikan Dasar dan Non Pendidikan Dasar, sudah dilakukan pada hari pertama, dengan penyerahan penghargaan lulusan terbaik untuk Program Non Pendidikan Dasar, diraih oleh Siti Muthma’innah dari Program Studi S1 Manajemen dari Kabupaten Rembang ini meraih IPK 3.95, serta dari Program Pendidikan Dasar, diraih oleh Farida Nor Rokhmah (S1-PGPAUD) dari Kabupaten Kudus, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3.86 (hasca)
Jadi lulusan terbaik UT, meskipun bantuan dana pendidikan pemda turun 80%

Sukses menggelar wisuda di hari pertama, Universitas Terbuka (UT) Semarang kembali melakukan rangkaian upacara wisuda hari kedua di Hotel Patra Jasa Semarang. Acara yang diikuti oleh ratusan wisudawan ini berlangsung khidmat dan semarak. Dengan dihadiri Wakil Rektor I UT, Dr M Yunus, MA, wisuda kali ini berlangsung dengan begitu megah. Dalam sambutannya, M Yunus memberikan pesan agar para wisudawan terus meningkatkan kapasitasnya sebagai alumni UT, dengan tetap menjunjung tinggi nama baik UT melalui karya-karya mereka. Ia juga menitipkan pesan agar para alumni UT selalu memunculkan prestasi yang dapat memberikan kesan baik di mata masyarakat. Selain itu, Direktur UT Semarang, Drs Moh Muzammil, M. SI., juga berpesan agar alumni UT memiliki keterampilan untuk selalu berkarya di berbagai bidang sesuai bakat dan minatnya. Untuk wisuda hari pertama (6/3) ini, UT mengundang lulusannya dari beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Demak (105 orang), Kabupaten Jepara (195), Kabupaten Kudus (170), Kabupaten Pati (184), dan Kabupaten Rembang (105 orang), sehingga secara keseluruhan jumlah wisudawan di hari pertama yaitu sebanyak 759 orang. Sebagai lulusan terbaik dari Program Pendidikan Dasar, diraih oleh Farida Nor Rokhmah (S1-PGPAUD). Perempuan yang bekerja di sebuah kelompok belajar di Kabupaten Kudus ini, meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3.86. sebagai guru honorer di sebuah kelompok belajar Kabupaten Kudus, Farida sempat mengalami kendala ketika mengikuti kuliah di UT. Awalnya, ia bisa meraih bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kendal dalam hal bantuan pendisikan. Namun ketika perjalanan kuliahnya baru di semester ketiga, Farida mendapatkan kabar bahwa bantuan pendidikan yang ia peroleh harus diturunkan nominalnya akibat satu faktor dari pemerintah setempat. Ia pun sempat putus asa, dan enggan melanjutkan kuliah. Setelah direnungkan dan mendapat motivasi dari keluarga, Farida akhirnya bersedia melanjutkan kuliah di UT, dengan segala kekuatan dan bantuan dari pemerintah yang menurun hingga 80% dari nilai nominal awal. Terbukti, dengan semangat yang ia miliki, kini Farida berhasil menyabet gelar sebagai lulusan terbaik dengan nilai menakjubkan. Adapun untuk Program Non Pendidikan Dasar, diraih oleh Siti Muthma’innah dari Program Studi S1 Manajemen. Pegawai di salah satu kantor kecamatan di Kabupaten Rembang ini meraih IPK 3.95. (hasca)
Akreditasi A untuk S2 Pendidikan Dasar UT

Sekarang giliran Program Pascasarjana Universitas Terbuka (UT) yang meraih pengakuan dari pemerintah. Melalui Surat Keputusan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT No. 553/SK/BAN-PT/Ak/M/II/2023, pemerintah Indonesia mengeluarkan keputusan penting terkait akreditasi A bagi Program Studi Pendidikan Dasar, pada Program Magister, di minggu ketiga bulan Februari 2023, UT berhasil mendapatkan pengakuan akreditas A. Keberhasilan ini menjadi torehan prestasi luar biasa bagi institusi pendidikan tinggi, terbuka, dan jarak jauh pionir Indonesia ini setelah dalam 4 bulan terakhir secara beruntun mendapatkan prestasi serupa. Prestasi ini semakin memantapkan UT dalam memberikan layanan pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia, dan membuka peluang bagi para pendidik dan tenaga kependidikan yang ingin melanjutkan studi di UT. Dengan keunggulan sebagai perguruan tinggi yang tidak ribet dalam hal biaya, penginapan, sistem belajar, dan layanan pembelajarannya, masyarakat bisa leluasa kuliah di Program Pascasarjana UT. Layanan pembelajarannya pun bisa dipilih mulai dari yang fully online hingga yang menggunakan skema tatap muka. Dengan diperkuat para pembimbing dari institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, para mahasiswa S2 dan S3 UT bisa melakukan interaksi secara aktif tanpa harus memikirkan keruwetan proses pembimbingan, sebab pihak UT-lah yang akan memfasilitasi hal ini hingga mahasiswa meraih puncak prestasi mereka. (hasca)
PELANGGARAN ETIKA TELEOLOGI DAN DEONTOLOGI
Media yang sudah seenaknya menyajikan kabar keliru, menjadikan publik terkadang terjebak dalam kesalahan beruntun.
Akreditas A untuk Pusat Layanan Pustaka UT

Unit Pusat Layanan Pustaka (Puslata) Universitas Terbuka (UT) adalah salah satu unit kerja yang menangani dan memberikan layanan koleksi pustaka bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Unit yang memiliki koleksi puluhan ribu buku dan majalah ini, baru saja memperoleh Akreditas A dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perolehan pengakuan akreditasi ini menjadi bukti bahwa unit kerja Puslata diakui oleh pemerintah sebagai unit kerja yang sudah memberikan layanan prima bagi pelanggannya. Selain itu, koleksi yang dimiliki oleh unit kerja yang dipimpin oleh Dr Sri Sedyaningsih, M.Si ini mampu memberikan layanan terbaik bagi pengunjung, anggota, maupun stakeholder lainnya. Selain memberikan layanan secari luring (datang langsung ke lokasi), Puslata juga memberikan akses bagi tamunya melalui situs puslata.ut.ac.id. Dari situs ini, pengunjung dapat menikmati layanan koleksi Pepustakaan Digital UT secara bebas. Bukan hanya buku ilmiah dan majalah populer-ilmiah yang tersaji di sini, namun tersedia pula Ruang Baca Virtual (RBV) bagi pengunjung yang ingin membaca bahan ajar milik UT secara online. Tentu, bentuk koleksi ini harus menggunakan akses individual dengan cara mendapatkan username dan password dari UT terlebih dahulu. Prestasi akreditasi ini menjadi sebuah kebanggaan bagi UT, sebagai bukti bahwa masyarakat mengakui dan memberikan apresiasi optimal terhadap Puslata UT. “Kami tim kerja Pusat Layanan Pustaka UT mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kunjungan pelanggan dan teman-teman, baik secara langsung maupun luring. Semoga ke depannya bisa semakin baik dalam memberikan layanan referensi sesuai kebutuhan”. Demikian ucapan terima kasih dari Unit Puslata UT yang dibagikan melalui media sosial. (hasca)
CARA SEDERHANA MENJAGA KELUARGA
Berantem, berkelahi, tawuran, atau sejenis adalah satu tindak kenalakan yang belakang marak terjadi. Bukan hanya orang dewasa, pelakunya juga berusia anak-anak. Apa yang mereka lakukan, merupakan hasil peniruan terhadap tindakan yang dilakukan orang yang lebih tua usianya. Bukan hanya sekadar beranten dan selesai, tapi anak-anak juga belajar menyimpan dendam. Bahkan ada dendam yang turun temurun. Misalnya, jika kakak kelasnya di SD pernah punya masalah dengan sekolah lain, maka adik kelasnya pun sudah diajari untuk mendendam. Bukan hanya sekolah saja yang dituduh punya tanggung jawab mengendalikan kenakalan ini. Orang-orang di rumah juga punya tanggung jawab. Malah lebih besar tanggung jawabnya. Jangan pula menganggap bahwa jika tawurannya sepulang sekolah, maka tanggung jawabnya juga ada di pihak sekolah. Salah kaprah ini harus dihentikan, dan disadarkan pada orang rumah yang suka ‘membagi’ tanggung jawabnya kepada pihak lain. Anak, bagaimana pun wujud usil dan nakalnya, tetap saja anak. Pembentukan perilaku dan sikap anak, dimulai dari rumah. Konsep ini semua sudah paham, dan Anda sudah menyadari ini. Yang dicemaskan saat ini adalah sikap tidak peduli keluarga terhadap tumbuh kembang anak. Ada yang menganggap bahwa dirinya sudah memberi perhatian dan bertanggung jawab terhadap anak. Namun kenyataannya, ketika ia ditanya anaknya ada di mana, pergi ke mana, mereka menjawab ‘keluar’, ‘lagi sama temannya’, atau ‘nggak tau tuh, tadi nggak pamit’. Ketiga jawaban tersebut hanya sebagian kecil dari wujud ketidak perhatian orang tua terhadap anak. Mengapa demikian? Urusan pamit-pamitan juga masuk dalam ranah rumah tangga. Kebiasaan meminta izin, jika sudah dicontohkan oleh orang tua yang tak pernah pamit ketika keluar rumah, juga menjadi bahan tiruan si anak. Anak akan sangat mudah meniru kebiasaan buruk yang ditunjukkan oleh orang tua. Ia merasa tidak bersalah sebab orang tuanya pun melakukan hal demikian. Lantas, bagaimana caranya agar anak yang sudah terlanjur meniru kebiasaan buruk menjadi berubah baik? Ada saran sederhana yang pernah diberikan oleh ahli psikologi, yaitu dengan memberikan pengetahuan kepada anak tentang akibat meniru kebiasaan buruk, namun bukan untuk mengancam. Beda ya, sebab ada juga pernyataan yang niatnya memberikan pengetahuan tentang akibat buruk namun disertai ancaman terhadap anak. Jika anak merasa ada sesuatu yang mengancam, maka ia akan menyimpan dendam. Ia akan berusaha mempertahankan diri agar tidak terancam. Saran lainnya adalah dengan menunjukkan bukti kepedulian orang tua terhadap anak dalam bentuk sikap keseharian. Ini sangat gampang dan mudah ditiru. Contohnya begini, dalam satu kesempatan tertentu, cobalah mengambilkan makan siang di piring, meskipun anak sudah remaja. Sesekali hal ini wajar dilakukan oleh orang tua untuk membuktikan bahwa dirinya sangat menyayangi anak, dan sampaikan bahwa inilah wujud kasih sayang orang tua kepada anak. Berapa pun usia anak, orang tua tetap akan memberikan perhatian, sehingga anak pun harus berterima kasih atas sikap ini. Anak juga wajib menjaga perasaan orang tua dengan menindakkan hal-hal positif yang mencerminkan kasih sayang orang tuanya. Tips lainnya, akan disampaikan pada tulisan yang lain. (hasca)
Kenakalan Masyarakat, Ternyata Dimulai dari Hal Sederhana Ini
Sebaiknya kita tidak menganggap remeh kenakalan masyarakat, yang acapkali muncul di tiap jenjang usia. Yang sering disebut-sebut hanyalah kenakalan remaja. Padahal kenakalan anak-anak pun sudah mulai banyak jenisnya. Di artikel ini, akan dibahas beberapa jenis kenakalan masyarakat, tanpa memandang usia. Dikutip dari sebuah sumber ilmiah, seorang ahli dalam bukunya Keluarga, Kontrol Sosial dan ‘Strain”: Model Kontinuitas Delinquency Remaja, menyatakan bahwa ada beberapa jenis kenakalan remaja yang sering dijumpai. Ia hanya membatasi dalam konteks remaja, walaupun tindakan ini juga dilakukan oleh kalangan anak-anak dan manusia dewasa (Purwandari, 2011). Di antara beberapa jenis itu, ada kenakalan yang namanya kenakalan biasa. Contoh tindakannya adalah suka keluyuran, berkelahi, membolos sekolah, atau pergi dari rumah tanpa pamit. Sepertinya keluyuran adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh anak-anak, apalagi di saat libur sekolah. Mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk berkumpul dengan teman di lingkungan rumah. Ada motif bersosialisasi dan tak mau dikucilkan oleh lingkungan, dan dipilihkan jalan bersama dengan teman sekitar rumah. Arah jalannya pun sesuka mereka. Ke kebun, ke sungai, atau ke tempat lain yang belum pernah dijamah. Ada rasa penasaran ketika mereka melakukan perjalanan ini. Mereka merasakan sensasi gembira dan bisa berkaata sebebasnya, semerdeka mereka. Namun ternyata bukan itu yang terjadi. Di saat mereka bertemu dan berkumpul dengan teman sebaya, ada kemungkinan di antara mereka yang sudah punya bibit nakal sebelumnya. Dan di saat inilah mereka menyebarkan bibit itu dan ditiru oleh teman lain yang belum pernah mengalaminya. Simpel sekali: keluyuran tapi hasilnya negatif, bisa berupa ucapan kata-kata kasar dn kotor. Bisa juga berupa tindakan yang tak patut dilakukan. Mereka anggap itu hal biasa, padahal dari sinilah mereka akan jadi terbiasa. Terbiasa bicara jorok, kotor, kasar, merendahkan orang lain, tidak menghormati orang tua, atau banyak lagi tiruan lainnya. Oleh karena ia merasa terbiasa dan tidak diingatkan kesalahannya, maka hal sederhana ini akan melebar ke mana-mana. Bentuknya bukan lagi berupa ucapan. Bisa saja berupa tindakan, perilaku sehari-hari, dan berbagai modus lain. Apakah kita akan membiarkan ini menjadi habit mereka? Tidakkah kita cemas akan hal ini? Agar kita bisa menata ulang mindset mereka, ada baiknya mulailah turun gunung dan melakukan pendekatan ke anak. Sebelum semuanya terjadi dan makin tak karuan, sebagai orang tua mulai bisa mendekatkan diri ke anak. Ajakan ngobrol di meja makan bisa menjadi salah satu obat. Sapaan dengan penuh kasih sayang bisa meluruhkan hati anak yang terbentuk kaku akibat bergaul dengan temannya. Apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mereka, silakan ikuti kajian lanjutannya di web ini. Agar kita sama-sama memahami dan bisa mengendalikan keluarga, ikuti terus ulasan ini hingga detail dan kita terjaga dari kelalaian yang tak berarti.
UT Diberondong Prestasi Akreditasi

Keren. Satu kata ini cukup buat menunjukkan rasa syukur Universitas Terbuka yang minggu lalu mendapatkan pengakuan akreditasi A. Melalui Surat Keputusan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT No. 10194/SK/BAN-PT/Ak/S/XII/2022, ditetapkan bahwa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD), pada Program Sarjana Universitas Terbuka berhak menyandang predikat berakreditasi A. Predikat ini menjadi rentetan prestasi UT yang bulan lalu juga mendapatkan pengakuan berakreditasi A bagi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Seolah sedang berlomba mendapatkan pengakuan ini, tiap program studi di UT sedang bekerja keras untuk membuktikan kemampuan mereka. Bukan perkara mudah untuk meraih prestasi ini sebab dibutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kerja keras dalam menyusun dokumen akreditasi yang jumlahnya tak sedikit. Apalagi, UT mengusung konsep pendidikan jarak jauh yang secara faktual mayoritas berkas atau dokumennya terserak di kantor UPBJJ, walaupun sudah terbackup secara digital juga. Dengan capaian ini, maka alumni UT – khususnya alumni PG-PAUD semakin yakin dengan proses dan hasil pendidikan yang telah mereka tempuh di UT selama ini. Direktur UT Semarang, Drs. Moh Muzammil, MM mengaku bahagia dengan hasil ini. Ia menyebut, “akreditas A untuk PG-PAUD menjadi modal bagus untuk mahasiswa dan alumni, serta UT sendiri yang dengan gigih memperjuangkan predikat ini. Kita patut bersyukur dan menjaga prestasi ini agar ke depannya semakin baik”, ajaknya. Bagi pengurus kelompok belajar yang menangani program studi ini, dapat meningkatkan animo calon mahasiswu baru yang ingin kuliah di UT. “Harapan masyarakat di wilayah Kabupaten Pekalongan khususnya, program studi PG-PAUD UT masih menjadi idola guru-guru muda yang belum memiliki ijazah S1. Dengan adanya akreditasi A ini, semoga semakin meningkatkan angka partisipasi calon mahasiswa baru di Pekalongan”, ujar Eko P, pengurus kelompok belajar di wilayah Buaran, Kabupaten Pekalongan ini. Berdasarkan SK BAN-PT, pemberian status akreditas A bagi PG-PAUD UT ini berlaku hingga Desember tahun 2027. Setelah itu, program studi wajib melakukan dan mengikuti uji akreditasi kembali untuk memastikan bahwa program studi ini masih berhak menyandang akreditasi A sesuai dengan kemampuan layanan dan prestasi dosen-dosen di program studi tersebut. (hasca)
Program Studi S1 Sistem Informasi UT Raih Predikat Baik dari BAN-PT

Ini menjadi modal berharga bagi kemajuan dan perkembangan program studi yang berada di bawah naungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UT.
Belajar sesuai prioritas, lebih hemat waktu
Perlu ada sikap prediktif agar Anda tidak terkungkung dalam suasana dan waktu belajar yang banyak tersia-siakan.