Ketika Sahabat Menjadi Toxic

Tak ada yang lebih mengecewakan dari kenyataan bahwa seseorang yang kita anggap sahabat, justru menjadi sumber luka dan tekanan. Kita sering kali membiarkan banyak hal karena menganggapnya sebagai “teman dekat”, padahal kenyataannya, tidak semua hubungan yang sudah lama terjalin itu sehat. Ada kalanya, sahabat berubah menjadi sosok toxic yang meracuni emosi dan mengikis harga diri secara perlahan. Sahabat yang toxic biasanya tidak terlihat seperti “penjahat” dalam hidupmu. Justru, mereka bisa jadi sangat dekat dan akrab, namun perilakunya menyelipkan manipulasi, kecemburuan, atau bahkan perendahan yang halus. Misalnya, ia selalu membuat candaan yang merendahkanmu, tapi saat kamu tersinggung, ia menuduhmu terlalu sensitif. Dalam jangka panjang, ini bisa membuatmu mempertanyakan nilai dirimu sendiri. Hubungan semacam ini juga sering membuatmu merasa bersalah karena ingin menjaga jarak. Kamu mungkin berpikir, “Aku terlalu jahat kalau menjauh,” atau “Dia sudah banyak membantuku dulu.” Tapi kebaikan di masa lalu tidak bisa menjadi alasan untuk terus membenarkan perilaku buruk di masa kini. Pertemanan yang sehat seharusnya saling menguatkan, bukan terus-menerus menuntut dan menyedot energimu. Salah satu tanda nyata dari sahabat toxic adalah adanya ketidakseimbangan. Kamu yang selalu menghubungi lebih dulu, kamu yang selalu diminta mendengar keluh kesahnya, tapi saat kamu membutuhkan hal yang sama, mereka tidak hadir. Dalam hubungan seperti ini, kamu perlahan kehilangan peran sebagai teman, dan hanya dijadikan tempat pelampiasan atau penguat ego. Yang lebih menyakitkan, sahabat toxic bisa membuatmu takut menjadi diri sendiri. Kamu jadi ragu menyampaikan opini, merasa bersalah karena punya kesuksesan, bahkan khawatir bila ada orang lain yang mulai akrab denganmu karena takut memicu kecemburuannya. Ini adalah bentuk kontrol emosional yang tidak seharusnya ada dalam persahabatan sejati. Namun, bukan berarti kamu harus langsung memutus semua hubungan. Ada kalanya, sahabat toxic hanyalah seseorang yang belum menyadari perilakunya. Kamu bisa mencoba berdialog dengan jujur, memberi batasan yang sehat, atau bahkan mengajak konseling bersama jika hubungan ini memang penting. Tapi jika segala usaha sudah dilakukan dan tak berubah, melepaskan bisa jadi langkah terbaik. Ingatlah, tidak ada salahnya memprioritaskan kesehatan mentalmu sendiri. Sahabat sejati akan merayakan pertumbuhanmu, bukan menghambatnya. Jadi jika kamu merasa persahabatan yang dijalani lebih sering menyakitkan daripada menyenangkan, mungkin saatnya kamu berkata: aku pantas mendapatkan hubungan yang lebih sehat dan tulus.(hasca)

7 Tanda Persahabatan yang Tidak Sehat

Persahabatan seharusnya menjadi ruang nyaman tempat kita tumbuh, saling mendukung, dan berbagi suka duka. Namun, tidak semua hubungan pertemanan membawa kebaikan. Ada kalanya, tanpa disadari, kita terjebak dalam hubungan yang menguras emosi dan membuat kita merasa kecil. Inilah yang disebut dengan persahabatan yang tidak sehat. Mengenali tanda-tandanya bisa jadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental dan emosional kita. 1. Kamu Selalu Merasa Bersalah atau Tak Cukup BaikJika setiap percakapan dengan sahabatmu berakhir dengan rasa bersalah, atau kamu selalu merasa tidak pernah cukup baik di matanya, itu pertanda hubungan tidak seimbang. Sahabat yang baik seharusnya membangun kepercayaan dirimu, bukan meruntuhkannya dengan kritik yang merendahkan. 2. Saling Mendukung? Hanya Berlaku Satu ArahCoba perhatikan, siapa yang lebih sering mendengarkan? Apakah hanya kamu yang jadi tempat curhat, sementara saat kamu membutuhkan, dia justru menghilang? Persahabatan adalah jalan dua arah. Jika kamu selalu memberi tapi jarang menerima, itu bisa jadi pertanda hubungan yang tidak sehat. 3. Dia Tidak Bahagia Saat Kamu BahagiaSahabat sejati akan ikut senang saat kamu berhasil atau bahagia. Jika dia justru merespons kabar baikmu dengan cemburu, sinis, atau bahkan membandingkan dengan dirinya, mungkin ada persaingan terselubung yang menyabotase esensi persahabatan itu sendiri. 4. Sering Merasa Lelah Setelah Bertemu DengannyaPertemanan yang sehat biasanya meninggalkan perasaan hangat dan segar. Tapi kalau setiap bertemu kamu justru merasa lelah secara emosional, itu tanda bahwa energi yang kamu keluarkan lebih besar daripada manfaat yang kamu dapatkan dari hubungan itu. 5. Kamu Takut Menjadi Diri Sendiri di DepannyaJika kamu merasa harus terus-menerus menyensor dirimu, menjaga kata-kata, atau berpura-pura untuk tetap diterima, hubungan itu mungkin dipenuhi tekanan tak terlihat. Sahabat seharusnya menjadi tempatmu tampil apa adanya, tanpa rasa takut dihakimi. 6. Manipulasi Emosional TerselubungTanda ini kadang sulit dikenali. Misalnya, dia sering mengungkit pengorbanannya di masa lalu untuk membuatmu merasa berutang budi, atau menggunakan rasa kasihan agar kamu menuruti keinginannya. Ini bukan bentuk kasih sayang, melainkan kontrol halus. 7. Hubungan yang Penuh Drama dan Konflik Tak SelesaiSetiap hubungan pasti punya konflik, tapi jika pertemananmu terus-menerus diliputi drama, salah paham, dan tidak pernah menemukan jalan damai, mungkin sudah saatnya mengevaluasi ulang. Hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi terbuka dan saling menghargai. Persahabatan yang sehat seharusnya memperkaya hidupmu, bukan menyulitkannya. Jika kamu menemukan satu atau beberapa tanda di atas dalam hubungan pertemananmu, tak ada salahnya memberi jarak dan mengevaluasi kembali. Ingat, kamu layak mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kebahagiaanmu.(hasca)

TRIK MENGATASI BEBAN STUDI YANG BERAT

Mini Ebook: TRIK MENGATASI BEBAN STUDI YANG BERAT Hai Saudara mahasiswa UT, sudah dapat pengalaman apa selama kuliah di UT? Selalu lancar atau menemui kendala? Jika masih menemui kendala dan itu disebabkan karena Saudara juga bekerja, di sini dibagikan trik untuk mengatasi hal itu. Namanya saja trik, maka kalau tidak dijalankan sesuai yang tertera, hasil belum bisa maksimal. Untuk itu, yuk dicoba triknya biar Saudara bisa membagi waktu dan mengatasi beban (yang dirasa berat) di saat kuliah dan bekerja. Semoga sukses yaaa…..

Mengenal akhlak madzmumah untuk keberhasilan anak

Kenakalan adalah perbuatan tercela. Seperti biasa, kita masih saja menganggap kenakalan remaja sebagai hal biasa. Lumrah. Padahal seharusnya tidak demikian cara kita menyikapinya. Perlu ada rasa cemas bahwa kenakalan akan memberikan dampak buruk bagi pelakunya. Dampak tersebut tidak selalu langsung dirasakan atau disaksikan hasilnya secara cepat. Dampak buruk bisa merupakan delayed impact yang menjadi bom waktu. Namanya saja bom, tentu akibatnya lebih banyak negatifnya daripada positif. Sebagai orang tua, tak cukup hanya merasa kaget, terperangah, atau cemas jika mendapati anaknya melakukan tindak kenakalan. Jika sekadar merasa cemas atau prihatin, maka keinginan untuk mengubah perilaku anak pun akan terlambat. Dalam pemahaman Islam, kenakalan merupakan sebuah ekspresi akhlak, yang masuk kategori akhlak madzmumah. Akhlak jenis ini lebih berbahaya sebab menjurus pada akhlak tercela. Jika Anda memiliki pemikiran bahwa kenakalan ada fase-fasenya, maka hal ini tidaklah keliru. Dan sebaiknya jangan pernah berharap akan bisa menemui fase tertinggi kenakalan anak. Hal ini akan sangat menyengsarakan kita sebagai orang tua yang punya keinginan menjadikan buah hatinya sebagi figur sukses, berhasil, dan berakhlak mulia. Ini harapan, yang hanya akan jadi sebatas harapan jika tidak didukung oleh upaya nyata. Upaya nyata seperti apa yang harus kita lakukan, tentu ada banyak jenisnya. Mulai dari yang sederhana saja, yaitu ucapan. Ucapan orang tua, sebaiknya dasarnya adalah karena nasehat. Dengan niat nasehat maka anak tidak akan merasa jengah atau kesal karena mendapatkan nasehat. Namun juga, nasehat yang diberikan pun sebaiknya tidak dengan cara mendudukkan anak dan ia diminta mendengarkan omongan kita. Era sekarang harus disesuaikan dengan era si anak yang kurang mau jika dinasehati dengan cara duduk dan mendengarkan. Mereka lebih suka dengan pendekatan versi pertemanan, yaitu yang menempatkan orang tua layaknya kawan sendiri. Kita pun tak perlu merasa tersinggung dengan model ini. Memang beginilah mereka, dan begitulah kita harus menyesuaikannya. Ada satu nasehat yang agak bisa menaklukkan kenakalan mereka, untuk menyadarkan mereka, bahwa kenakalan adalah sebuah bentuk keangkuhan. Tanyakan pada si anak, apakah benar kamu adalah anak angkuh, ingin dikenal angkuh, dan faktor apa yang mendasari keangkuhan mereka. Tanyakan pula hal apa saja yang mengharuskan mereka angkuh. Apakah karena orang tua yang kaya raya, punya jabatan, punya mobil mewah, rumah bertingkat-tingkat, dan semua kebutuhan anak selalu terpenuhi. Sentuh hatinya dengan pilihan kata sejuk, dengan menundukkan gerak mata mereka secara halus perlahan, hingga kita bisa menemukan figur anak kita yang sebenarnya. Semoga cara ini bisa membantu. (hasca)

CARA SEDERHANA MENJAGA KELUARGA

Berantem, berkelahi, tawuran, atau sejenis adalah satu tindak kenalakan yang belakang marak terjadi. Bukan hanya orang dewasa, pelakunya juga berusia anak-anak. Apa yang mereka lakukan, merupakan hasil peniruan terhadap tindakan yang dilakukan orang yang lebih tua usianya. Bukan hanya sekadar beranten dan selesai, tapi anak-anak juga belajar menyimpan dendam. Bahkan ada dendam yang turun temurun. Misalnya, jika kakak kelasnya di SD pernah punya masalah dengan sekolah lain, maka adik kelasnya pun sudah diajari untuk mendendam. Bukan hanya sekolah saja yang dituduh punya tanggung jawab mengendalikan kenakalan ini. Orang-orang di rumah juga punya tanggung jawab. Malah lebih besar tanggung jawabnya. Jangan pula menganggap bahwa jika tawurannya sepulang sekolah, maka tanggung jawabnya juga ada di pihak sekolah. Salah kaprah ini harus dihentikan, dan disadarkan pada orang rumah yang suka ‘membagi’ tanggung jawabnya kepada pihak lain. Anak, bagaimana pun wujud usil dan nakalnya, tetap saja anak. Pembentukan perilaku dan sikap anak, dimulai dari rumah. Konsep ini semua sudah paham, dan Anda sudah menyadari ini. Yang dicemaskan saat ini adalah sikap tidak peduli keluarga terhadap tumbuh kembang anak. Ada yang menganggap bahwa dirinya sudah memberi perhatian dan bertanggung jawab terhadap anak. Namun kenyataannya, ketika ia ditanya anaknya ada di mana, pergi ke mana, mereka menjawab ‘keluar’, ‘lagi sama temannya’, atau ‘nggak tau tuh, tadi nggak pamit’. Ketiga jawaban tersebut hanya sebagian kecil dari wujud ketidak perhatian orang tua terhadap anak. Mengapa demikian? Urusan pamit-pamitan juga masuk dalam ranah rumah tangga. Kebiasaan meminta izin, jika sudah dicontohkan oleh orang tua yang tak pernah pamit ketika keluar rumah, juga menjadi bahan tiruan si anak. Anak akan sangat mudah meniru kebiasaan buruk yang ditunjukkan oleh orang tua. Ia merasa tidak bersalah sebab orang tuanya pun melakukan hal demikian. Lantas, bagaimana caranya agar anak yang sudah terlanjur meniru kebiasaan buruk menjadi berubah baik? Ada saran sederhana yang pernah diberikan oleh ahli psikologi, yaitu dengan memberikan pengetahuan kepada anak tentang akibat meniru kebiasaan buruk, namun bukan untuk mengancam. Beda ya, sebab ada juga pernyataan yang niatnya memberikan pengetahuan tentang akibat buruk namun disertai ancaman terhadap anak. Jika anak merasa ada sesuatu yang mengancam, maka ia akan menyimpan dendam. Ia akan berusaha mempertahankan diri agar tidak terancam. Saran lainnya adalah dengan menunjukkan bukti kepedulian orang tua terhadap anak dalam bentuk sikap keseharian. Ini sangat gampang dan mudah ditiru. Contohnya begini, dalam satu kesempatan tertentu, cobalah mengambilkan makan siang di piring, meskipun anak sudah remaja. Sesekali hal ini wajar dilakukan oleh orang tua untuk membuktikan bahwa dirinya sangat menyayangi anak, dan sampaikan bahwa inilah wujud kasih sayang orang tua kepada anak. Berapa pun usia anak, orang tua tetap akan memberikan perhatian, sehingga anak pun harus berterima kasih atas sikap ini. Anak juga wajib menjaga perasaan orang tua dengan menindakkan hal-hal positif yang mencerminkan kasih sayang orang tuanya. Tips lainnya, akan disampaikan pada tulisan yang lain. (hasca)

Kenakalan Masyarakat, Ternyata Dimulai dari Hal Sederhana Ini

Sebaiknya kita tidak menganggap remeh kenakalan masyarakat, yang acapkali muncul di tiap jenjang usia. Yang sering disebut-sebut hanyalah kenakalan remaja. Padahal kenakalan anak-anak pun sudah mulai banyak jenisnya. Di artikel ini, akan dibahas beberapa jenis kenakalan masyarakat, tanpa memandang usia. Dikutip dari sebuah sumber ilmiah, seorang ahli dalam bukunya Keluarga, Kontrol Sosial dan ‘Strain”: Model Kontinuitas Delinquency Remaja, menyatakan bahwa ada beberapa jenis kenakalan remaja yang sering dijumpai. Ia hanya membatasi dalam konteks remaja, walaupun tindakan ini juga dilakukan oleh kalangan anak-anak dan manusia dewasa (Purwandari, 2011). Di antara beberapa jenis itu, ada kenakalan yang namanya kenakalan biasa. Contoh tindakannya adalah suka keluyuran, berkelahi, membolos sekolah, atau pergi dari rumah tanpa pamit. Sepertinya keluyuran adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh anak-anak, apalagi di saat libur sekolah. Mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk berkumpul dengan teman di lingkungan rumah. Ada motif bersosialisasi dan tak mau dikucilkan oleh lingkungan, dan dipilihkan jalan bersama dengan teman sekitar rumah. Arah jalannya pun sesuka mereka. Ke kebun, ke sungai, atau ke tempat lain yang belum pernah dijamah. Ada rasa penasaran ketika mereka melakukan perjalanan ini. Mereka merasakan sensasi gembira dan bisa berkaata sebebasnya, semerdeka mereka. Namun ternyata bukan itu yang terjadi. Di saat mereka bertemu dan berkumpul dengan teman sebaya, ada kemungkinan di antara mereka yang sudah punya bibit nakal sebelumnya. Dan di saat inilah mereka menyebarkan bibit itu dan ditiru oleh teman lain yang belum pernah mengalaminya. Simpel sekali: keluyuran tapi hasilnya negatif, bisa berupa ucapan kata-kata kasar dn kotor. Bisa juga berupa tindakan yang tak patut dilakukan. Mereka anggap itu hal biasa, padahal dari sinilah mereka akan jadi terbiasa. Terbiasa bicara jorok, kotor, kasar, merendahkan orang lain, tidak menghormati orang tua, atau banyak lagi tiruan lainnya. Oleh karena ia merasa terbiasa dan tidak diingatkan kesalahannya, maka hal sederhana ini akan melebar ke mana-mana. Bentuknya bukan lagi berupa ucapan. Bisa saja berupa tindakan, perilaku sehari-hari, dan berbagai modus lain. Apakah kita akan membiarkan ini menjadi habit mereka? Tidakkah kita cemas akan hal ini? Agar kita bisa menata ulang mindset mereka, ada baiknya mulailah turun gunung dan melakukan pendekatan ke anak. Sebelum semuanya terjadi dan makin tak karuan, sebagai orang tua mulai bisa mendekatkan diri ke anak. Ajakan ngobrol di meja makan bisa menjadi salah satu obat. Sapaan dengan penuh kasih sayang bisa meluruhkan hati anak yang terbentuk kaku akibat bergaul dengan temannya. Apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mereka, silakan ikuti kajian lanjutannya di web ini. Agar kita sama-sama memahami dan bisa mengendalikan keluarga, ikuti terus ulasan ini hingga detail dan kita terjaga dari kelalaian yang tak berarti.

Tips memilih waktu belajar berdasarkan lokasi

Belajar merupakan salah satu upaya untuk mengubah diri menjadi semakin pandai. Pandai dalam konteks ini bukan sekadar pandai dalam hal ini, namun pengalaman pun juga termasuk bagian kecil dari sebuah kepandaian. Banyak yang mengatakan, pengalaman adalah ilmu paling berharga. Nilai berharganya sebuah pengalaman, pun bergantung pada kebutuhan pemilik pengalaman itu.Agar seseorang bisa cepat dalam menerima ilmu atau mencari pengalaman, dibutuhkan satu trik yang tepat. Trik ini bisa menjadi pilihan bagi Anda yang tak ingin membuang waktu dalam mencari ilmu atau menambah pengalaman. Berikut ini adalah triknya.Aspek utama dalam belajar adalah tentang lokasi. Artinya, memilih lokasi yang sesuai untuk belajar. Lokasi belajar bisa dipilih sesuai dengan kondisi fisik, kebutuhan suasana, atau waktu. Dari ketiga hal itu, Anda bisa menenukan berdasarkan kondisi fisik. Jika Anda adalah orang yang bisa menempatkan diri dalam segala jenis tempat belajar, maka Anda tidak akan mengalami kesulitan apapun.Berbeda jika Anda harus bergantung pada sarana tertentu agar bisa belajar dengan nyaman, misalnya membutuhkan kursi untuk duduk berlama-lama, atau membutuhkan kipas angin sebab Anda tidak kuat jika mengalamin kegerahan. Kemudian, tentang suasana. Suasana belajar bisa Anda tentukan misalnya berdasarkan tingkat keramaian atau kebisingan. Bagi Anda yang terbiasa dengan suasana ramai, Anda bisa belajar di mana pun tempatnya. Jika tidak, berarti Anda harus memilih tempat yang tenang dan bahkan mungkin harus menyendiri.Selanjutnya adalah tentang waktu. Yang bisa dipilih dari hal ini adalah ketersediaan kesempatan Anda sesuai dengan kesibukan yang Anda jalani. Jika Anda adalah pekerja pagi hingga sore, maka malam adalah saat yang tepat untuk belajar. Namun jika Anda adalah seseorang yang bekeja secara shift, maka Anda harus pandai-pandai memilih dan menentukan waku belajar Anda, walaupun hanya beberapa saat saja. Untuk aspek lain yang menjadi bagian dari tips belajar, akan diulas pada artikel selanjutnya. Selamat mencoba. (hasca)

Kamu Hobi Fotografi? Cobain Teknik Panning dan… Hasil Wooww

Pernah coba teknik panning di dunia fotografi? Kalau belum pernah, kalian bisa cobain buat tambah skill fotografimu. Teknik panning merupakan satu cara untuk membekukan objek bergerak dalam sebuah frame. Teknik ini banyak disukai para seniman foto yang ingin menegaskan objek jepretannya. Tapi, teknik panning jarang dipakai untuk keperluan jurnalistik, sebab hasil panning tidak akan merekam latar belakang objek. Padahal di dunia jurnalistik, foto yang ditampilkan semua detailnya mempunyai nilai berita juga. Oleh karena itu  hasil foto panning tidak semua bisa dijadikan berita dan punya nilai berita. Panning lebih fokus pada aspek estetika. Bagaimana cara pengambilan objek panning? Salah satunya adalah dengan menggerakkan bodi kamera, mengikuti arah objek utama. Jika dirasa sudah pas angle-nya, segeralah menekan tombol shutter kamera. Cara kedua, bisa dengan mengatur kecepatan pada fitur kamera. Kalian bisa tentukan kecepatannya pada angka antara 1/20 hingga 1/100. Yang jelas, sesuaikan nilai kecepatan kamera dengan kecepatan objek. Butuh permainan rasa atau sense untuk menentukan kecepatan kamera. Nggak cuma asal pilih. Hasil yang kalian peroleh dengan teknik ini adalah objek utama yang kalian bidik tampak utuh sempurna, sedangkan latar belakangnya dalam tampilan blur atau kabur. Kalau pemerhati foto yang jeli, ia akan memadukan irisan objek utama dengan latar yang blur tadi. Ada detail khusus yang bisa membedakan bahwa ini adalah hasil jepretan asli atau rekayasa editan. Kalau kalian mau mencoba panning, bisa sesuaikan objek orang sedang lari atau jogging dengan kecepatan 1/30 sampai 1/40. Hasilnya, orang yang sedang jogging tadi seakan berlari cepat akibat tampilan latar belakangnya kabur. Atau kalian bisa memotret balapan mobil dengan kecepatan 1/100 sampai 1/200. Jangan pernah ragu untuk mengutak-atik fitur di kamera. Benda ini memang sensitif, tapi kalau kalian mau mengatur dengan kepekaan rasa fotografi yang tinggi, kalian pasti akan mendapatkan objek yang lebih dramatis. Selamat mencoba, yaa.. (hasca)