Tetap ‘puasa’ di saat berbuka

Bulan puasa, ada kalanya menjadikan waktu maghrib sebagai awal untuk makan segala yang diinginkan. Serasa ada dendam membara gara-gara sudah menahan lapar selama hampir 14 jam lamanya. Tapi kalau kalian sadar dan meyakini ibadah ini, tentu bukan dendam yang disulutkan, melainkan niat ikhlas untuk meraih ridla Illahi. Walau bagaimana pun, pasti ada deh di antara kalian yang agak khilaf ketika maghrib tiba. Wajar sih, itu nggak apa-apa. Tapi akan lebih bagus kalau agak ditahan dikit nafsu-nafsu itu, supaya nilai puasa yang dijalani (termasuk menahan nafsu) masih tetap terbawa meski sudah masuk waktu buka puasa. Salah satunya adalah menahan nafsu untuk menyantap makan hingga berlebihan. Dalam satu hadits sudah diingatkan bahwa untuk kalian yang berpuasa, sebaiknya menghentikan makan sebelum kita kenyang. Agak susah memang menjalankan ini sebab kalian juga kadang lupa kapan waktunya kenyang. Rasa kenyang akan muncul ketika perut kalian sudah merasakan penuh lantaran dijejali berbagai menu seperti gorengan, kolak, asinan, kue tradisional, dan dilanjutkan dengan makan berat. Kalau ini, namanya bukan kenyang lagi, tapi berlebihan. So, di tulisan ini saya mau berbagi sedikit portal makanan supaya kalian tetap terjaga kondisinya walaupun menganggap bahwa buka puasa itu adalah sebuah hak. Iya memang benar, itu hak kalian. Tapi ada baiknya kalian juga sedikit tahu menu-menu ini supaya kalian nggak salah asup dan tetap memperhatikan energi yang terkandung di dalamnya. Daftar komposisi makanan beserta kandungan kolestrol tinggi dalam setiap 100 gram : No Makanan Kadar Kategori (per 100 gram) Cholesterol (mg) (Anjuran) 1 Putih telur ayam 0 Sehat 2 Daging ayam tanpa kulit 60 Sehat 3 Daging bebek tanpa kulit 50 Sehat 4 Daging sapi tanpa gajih 70 Sehat 5 Daging kambing tanpa gajih 70 Sehat 6 Ikan 70 Sehat 7 Susu sapi full cream 85 Sesekali 8 Ham (daging asap) 98 Sesekali 9 Iga sapi 100 Sesekali 10 Daging sapi dengan gajih 125 Sesekali 11 Keju 100 Hati-hati 12 Sosis daging 150 Hati-hati 13 Kepiting 150 Hati-hati 14 Udang 125 Hati-hati 15 Kerang 160 Hati-hati 16 Belut 185 Bahaya 17 Coklat 290 Bahaya 18 Mentega 250 Bahaya 19 Jeroan sapi 380 Bahaya 20 Kuning telor 550 Bahaya 21 Jeroan kambing 610 Bahaya 22 Cumi-cumi 1170 Pantang 23 Otak 2000 Pantang Penting kalian ingat bahwa menu berikut bukanlah larangan, dan silakan mengkonsumsi ini dengan komposisi yang wajar dan tidak berlebihan. Berikut menu-menu tersebut yang penulis peroleh dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan puasanya sukses. (hasca)  Ilustrasi: https://www.google.com/search?q=daging+sapi+kolesterol&tbm=isch&ved=2ahUKEwi9wuvK7YD3AhUCkdgFHU0eBJMQ2-cCegQIABAA&oq=daging+sapi+kolesterol&gs_lcp=CgNpbWcQAzIECAAQGDIECAAQGDoFCAAQgAQ6BggAEAcQHlCMC1ibH2CQJGgAcAB4AIABZogBvgeSAQQxMi4xmAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWfAAQE&sclient=img&ei=2kVOYr3tBIKi4t4PzbyQmAk#imgrc=8N5I9qlB-3zrFM&imgdii=d3MMDdR0v10RVM

Tips Nulis Penghasil Cuan

Sobat, terlalu banyak yang mengeluh karena nggak bisa nulis, tentu saja percuma. Maksudnya, hanya mengeluh dan mengeluh tanpa tahu cara penyelesaiannya, pasti sobat akan jengkel sendiri. Apalagi di sekitar kalian nggak ada yang bisa diajak ngobrol dan nemuin jalan keluar tentang cara menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Catatan ini mengajak kalian untuk mengubah stigma bahwa tulis itu gampang. Segampang kalian ngobrol bareng teman, semudah kalian tulis status di media sosial. Simak trik ini ya, biar kalian bisa eksis di dunia tulis hingga meraih keinginan setinggi-tingginya. Yang pertama adalah peliharalah kebiasaan menulis yang sudah kalian miliki. Maksudnya, meskipun kalian masih punya sebatas kebiasaan menulis status WA, jagalah itu. Malah kalau bisa, kembangkan status-status WA kalian menjadi sebuah paragraf yang mengalir. Berawal dari kebiasaan ini, diharapkan bisa terbentuk sebuah pola pemikiran yang lebih konstruktif dan terukur. Susunan kata dan perpindahan antarkalimat yang membentuk rangkaian ide, akan memberikan gambaran bagi orang lain tentang cara berpikir kalian. Sebetulnya mudah sekali untuk membuktikan hal ini sebab semua bahan, ada di pikiran kalian. Tinggal kalian yang menuangkannya. Ingat, jangan hanya berhenti pada pemikiran ‘saya akan benar-benar mulai menulis’. Jika hanya di situ, maka cukup itulah kemampuan kalian, tanpa berani mengasahnya agar dibaca dan dinilai oleh orang lain. Kedua, tentukan waktu yang tepat untuk menulis dan jadikan itu sebagai sebuah keharusan. Andaikata saya, maka saya pun sudah menetapkan satu titik waktu di malam hari untuk menuliskan paling tidak satu tema, yang harus saya kembangkan isinya di esok hari. Bahan tema tersebut, biasanya saya peroleh dari tagline di TV atau mendengarkan penyiar radio mengucapkan clue-clue penting, bahkan yang lucu sekali pun. Inilah yang dimaksud sebagai pemicu gagasan. Dari mana pun asalnya, jika kita cocok untuk menjadikannya sebagai sebuah ide, maka raihlah itu dan kembangkan jadi tulisan yang bagus. Yang ketiga adalah berusahalah punya komitmen untuk membatasi target karya kalian kepada orang lain. Artinya, jika kalian punya niat menulis sebuah cerpen, maka sebelumnya kalian sudah berani menjanjikan orang lain bahwa minggu depan kalian akan mengirimkan satu cerpen. Dan mintakan kesediaannya untuk membaca dan menilai cerpen itu. Dengan batasan waktu itu, kalian merasa punya janji untuk menyerahkan produk. Seharusnya, jika sudah menjanjikan hal itu, maka kalian pun akan merasa dikejar deadline. Berikutnya yang keempat adalah berusalah menemukan niat atau motif kalian ketika akan memulai aktivitas menulis. Motifnya bisa karena hobi, kebutuhan, kewajiban, menyalurkan ide atau perasaan jiwa, atau karena alasan lain. Meskipun berupa status WA, pasti ada niatnya, ada motifnya. Apalagi tulisan yang panjang, pasti ada niatnya sebab untuk menuangkan gagasan sepanjang itu dibutuhkan energi besar. Kalau bukan karena didasari oleh niat, lantas apa lagi yang mendasari munculnya sebuah ide yang panjang itu? Selanjutnya yang kelima adalah punyai kebiasaan bahwa kalian bertanggung jawab atas sebuah karya. Jangan lagi mengatakan bahwa kalian tidak tahu alasan munculnya tulisan kalian. Punyai rasa percaya diri sehingga akan muncul sikap tanggung jawab bahwa tulisan itu adalah milik kalian. Malah kalau bisa, jika ada yang berani mengambil atau menyalin tanpa seizin kalian, itu adalah plagiasi. Dengan modal keyakinan dan keberanian itu, maka kalian pun akan punya sikap tegas terhadap karya kalian. Keenam adalah berikan penghargaan pada diri sendiri. Maksudnya, ketika kalian sudah mampu berkarya, berani menuliskan gagasan yang fenomenal, maka hargai itu sebuah hasil pemikiran yang tak biasa. Kadang, kita tidak menyadari ketika tulisan kita yang kita anggap jelek, kemudian kita remas dan buang coretan konsep tulisan kita. Kita lupa bahwa itu adalah hasil kerja kita yang harusnya dihargai. Bayangkan saja, jika kita sendiri saja tidak mau menghargai karya kita, mungkinkan orang lain akan memberikan apresiasi untuk kita? Tentu sangat sulit, bukan? Oleh karena itu, punyai kebiasaan untuk menghargai karya kita sendiri, sehingga kita tahu bahwa ada kekurangan yang harus diperbaiki, serta mewaspadai hal-hal lain yang mungkin menjadi ganjalan di kemudian hari. Kebiasaan saya, saya akan tertawa geli jika membaca tulisan saya yang sudah beredar beberapa tahun lalu. Dari kegelian itu, akhirnya muncul sikap waspada untuk tidak mengulangi kesalahan atau kekonyolan serupa. Ketujuh, jadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Kalau sudah punya semangat ini, maka kegiatan menulis bisa mendatangkan cuan yang besar. Kalian bisa nulis sesuatu dan mengirimkan ke media yang kalian sukai. Dari situ, jika tulisan kalian dimuat, pasti tim redaksi akan memberikan imbalan atau honor menarik. Atau jika kalian sudah bisa menulis banyak dan dirangkai menjadi sebuah buku, maka kalian bisa mengirimkan naskah itu ke penerbit. Hasilnya, silakan berdiskusi dengan perusahaan penerbitan untuk menentukan royalti yang akan diterima nantinya. Baiklah sobat, itu dulu trik memunculkan gairah menulis supaya kalian tidak jemu dan mendapatkan tempat di hati mitra kalian gara-gara tulisan kalian yang keren dan menarik. Selamat mencoba yaa…. (hasca) Ilustrasi: https://www.google.com/search?q=nulis&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjRlLyS54D3AhXNhOYKHYwMB0sQ_AUoAXoECAEQAw#imgrc=ofjcmwpqHA1qBM

Ingin sukses, lakukan 3 trik percaya diri ini

Siapa sih yang nggak ingin punya rasa percaya diri tinggi? Percaya diri atau pede sangat dibutuhkan oleh kalian yang mulai berkembang. Pede bicara di depan banyak orang, pede menuliskan gagasan buat dibaca orang lain, atau pede untuk kebutuhan yang lain. Buat yang sudah punya rasa percaya diri tinggi, sebagian dari mereka mengatakan kalau percaya diri itu adalah sebuah seni. Sikap percaya diri bisa diubah dan dibentuk sesuai keinginan pemiliknya. Makanya, banyak yang menyebut percaya diri itu sifatnya dinamis. Selalu berkembang dan bisa menyesuaikan kebutuhan kondisi. Tiga hal yang bisa kalian siapkan untuk membentuk rasa percaya diri adalah perlunya dimiliki kemampuan memimpin, menjual, dan mempresentasikan. Jika kalian punya satu hal saja, itu sudah bagus. Yang dimaksud menjual, bukan selalu interaksi atau transaksi yang ada barangnya. Sesuatu yang tidak tampak sekali pun, bisa kalian jual, sebab konteks menjual di sini bukanlah sebuah aktivitas ekonomi semata. Kalian bisa menjual kemampuan membuat surat lamaran dan ditawarkan buat mereka yang lagi sibuk mencari pekerjaan. Layanan ini bisa dikategorikan layanan jasa yang menjual kemampuan kalian untuk membuatkan surat lamaran kerja. Perlu keberanian khusus untuk membuka tawaran ini sebab taruhannya adalah lolos tidaknya peserta atau pelamar kerja untuk diterima di perusahaan yang mereka inginkan. Meski ada juga faktor lain yang mempengaruhi, tapi gerbang awal proses seleksi kerja adalah dari surat lamaran. Dan surat lamaran yang baik, teknis menyusunnya pun ada triknya. Inilah keberanian baru yang bisa kalian kembangkan, dan akan berbuah pada rasa percaya diri. Yakinlah bahwa rasa percaya diri kita sebenarnya memang ada, dan hanya butuh waktu untuk mengekspresikannya. Bagaimana cara berekspresi, cobalah mencari wadahnya untuk menuangkan kemampuan kalian. Dan siapa yang tahu potensi diri kalian, tentu kalian sendirilah yang memahami. Jika ada orang lain menilai dan mengarahkan untuk mengasah kemampuan kalian, cobalah untuk merenungi dan meyakinkan diri sendiri bahwa memang itulah potensi yang kalian miliki. Jika posisi kalian adalah sebagai pemimpin, maka kalian saat ini sedang menjual sesuatu. Artinya, kalian sedang menjual program yang diharapkan diikuti oleh anggota. Kemampuan menyampaikan program dan dipahami secara baik, sudah bisa memberikan poin khusus dalam hal rasa percaya diri. Asah terus kemampuan itu, dan berusahalah mencari kekurangan yang sempat muncul, dan mulailah belajar untuk mengatasinya. Dengan begitu, rasa percaya diri kalian pun akan membaik di kemudian hari. Selanjutnya adalah kemampuan memimpin. Menjadi pemimpin tidak selalu harus menempati posisi puncak dalam sebuah struktur kerja atau organisasi. Kalian bisa jadi pemimpin untuk sebuah organisasi kecil meskipun baru sebatas sebagai sie dokumentasi. Atau kalian – karena masih tercatat sebagai karyawan baru – baru diberi tugas sebagai pembantu umum. Mereka yang menugaskan itu, bukan berarti tidak memahami potensi kalian. Mungkin saja mereka sudah tahu, hanya ingin memulainya dengan hal-hal sederhana dulu. Itu pun tidak masalah, dan terimalah dengan gembira. Cobalah melakukan  tugas itu dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab, sehingga orang lain akan memiliki penilaian tersendiri. Bisa jadi mereka akan menilai kalian sebagai sosok yang supel, percaya diri, mampu mengelola tim kerja sesuai beban tugasnya, dan berbagai penilaian lain. Untuk itu, manfaatkanlah berbagai kesempatan itu, untuk mengasah potensi percaya diri kalian, sesuai batas wajar yang diperlukan. Akan jadi sebuah anugerah jika kalian sudah punya tiga hal tadi sekaligus. Ini berarti rasa percaya diri kalian sudah berada pada posisinya. Kalau pun masih kurang-kurang sedikit, itu wajar. Kekurangan akan selalu ada pada tiap orang, tetapi tutupilah kekurangan itu dengan kelebihan yang kalian miliki. Yang terakhir adalah kemampuan mempresentasikan. Apa saja yang bisa dipresentasikan? Banyak! Ya, memang banyak sekali yang bisa dipresentasikan untuk menguatkan rasa percaya diri kalian. Paling tidak, ketika kalian menceritakan tentang rencana kerja bulan ini, itu sudah menjadi sebuah upaya mempresentasikan sesuatu, mengisahkan sesuatu untuk dikerjakan bersama. Rencana kerja yang baik, akan tersusun dalam sebuah timeline yang mudah dipahami oleh semua unsur kerja, walaupun hanya dinarasikan dengan simbol semata. Gaya ini tidak semua orang bisa melakukannya. Andaikata kalian bisa, maka buatlah sebuah rencana kerja dengan unsur simbolis sehingga ketika melakukan progres kerja, kalian tidak perlu lagi mengulasnya dari awal. Inilah tadi, 3 hal penting yang bisa kalian jadikan acuan untuk meningkatkan rasa percaya diri, baik di tempat kerja, di lingkungan rumah, maupun dalam obrolan di lingkungan sosial (hasca). Ilustrasi     :    trust–440224_960_720                     

UT dan Inovasinya di Dua Tahun Terakhir

Dua tahun terakhir, semangat kuliah online mulai banyak diminati. Alasannya sederhana, karena coid maka semua tiba-tiba dionline-kan. Tapi untuk urusan kuliah, Universitas Terbuka (UT) sudah lebih dulu mengawalinya. Yang lain bisa disebut sebagai perguruan tiba-tiba online. Bukti keonline-nan UT sudah bisa dilihat sejak calon mahasiswa belum mendaftarkan diri, mereka bisa mendapatkan info tentang UT dari website. Semua infornasi tentang apapun – mulai dari jenis program studi, biayanya, bahan ajarnya, maupun caranya wisuda – semua ada di situ. Buat kalian yang belum mendapatkan kiriman bahan ajar (akrab disebut modul) bisa nyicil belajar di ruang baca virtual (RBV)-nya UT. Isinya juga lengkap, sama seperti versi ncetak. Di ruang belajuarnya, UT sudah lebih dulu punya ajang tutorial online.  Ajang belajar tiap mata kuliah yang diikuti oleh maksimal 50 mahasiswa di tiap kelasnya, dengan bimbingan para tutor yang relevan bidang keilmuannya. Di tutorial tatap muka, yang awalnya memang benar-benar tatap muka, mulai dialihkan ke tutorial webinar (tuweb) – sebagai jalan keluar di saat pandemi. Perjalanan tuweb  ini pun mengalami berbagai fenomena unik, tapi semua bisa diatasi UT dengan cara yang menyejukkan. Begitu juga dengan ujian yang sudah mulai diperkenalkan model take home exampe (THE). Cara ini juga dianggap bisa mengakomodasi proses uji ukur kompetensi mahasiswa sebelum meangkhiri masa belajar di semester berjalan mereka. (hasca)

Kenapa kita mager?

Pertanyaan ini boleh saja tidak diakui jika kita sedang rajin-rajinnya. Bahkan ada yang menyebut, mager (malas gerak) sebagai gejala yang disengaja supaya tidak diberi beban kegiatan lain. Mager biasanya dialami oleh mereka yang sedang asyik berkegiatan dan susah diganggu oleh hal lain. Tapi sebaiiknya mager jangan dijadikan gaya hidup atau alasan untuk tidak melakukan hal apapun. Ada beberapa penyebab mager yang sebenarnya bisa kita akui. Misalnya kita tak mau diganggu hal lain ketika sedang memainkan gadget. Butuh waktu tak terbatas jika kita mendewakan gadget sebagai ‘makhluk kecil’ yang punya impact besar. Apalagi sampai menganggap gadget adalah segalanya yang selalu benar dan harus dicontoh isinya. Ini adalah keputusan salah yang sebaiknya segera kita sadari. Penyebab mager lainnya adalah keingintahuan kita ketika masuk ke media sosial yang berisi tentang sesuatu yang sedang kita alami atau butuhkan. Jika sebelumnya dinyatakan bahwa gadget adalah segalanya untuk hal apapun, maka untuk selanjutnya menempatkan info gadget sebagai hal yang diutamakan uaitu berupa informasi yang dekat dengan kebutuhan penggunanya, misalnya info makanan, pendidikan, dan liburan. Tiga hal ini sepertinya menjadi rangking kebutuhan primer – untuk sebagian dari kita. Kemudian penyebab mager lainnya adalah tuntutan untuk selalu leading dalam hal perkembangan teknologi dari berbagai sumber. Tentu yang utama adalah dari medsos di gadget juga. Sebutan kuper jadi hal tahu bagi anak muda jika gagal paham tentang teknologi. Apapun alasannya, ketika orang lain bicara kemajuan aplikasi atau hal apapun berbau teknologi, kaum milenial harus tampil unggul, kalau perlu dominan. Larut dalam kesedihan juga jadi alasan seseorang untuk mager. Biasanya, jalan keluar dari masalah yang dihadapi sudah tersedia. Tapi karena ia berharap agar agak lama permasalahannya lebih lama berkutat, seseorang akan mempertahankan masalah itu sebagai sebuah ‘nilai tambah’ supaya dianggap sedang sibuk dengan masalahnya. Boleh saja bersikap seperti itu, namun sebaiknya tidak melibatkan orang lain untuk memelihara konflik batin itu. Itulah tadi beberapa dugaan penyebab seseorang mager. Andaikata salah, berarti ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu Anda tidak mengalaminya atau dugaan tadi masih kurang lengkap dan terinci lagi. Apapun itu dan bagaimana pun juga, mager adalah sebuah kenikmatan yang kadang menjadikan orang lain jengkel pada diri kita (hasca)